Mitos-Mitos dalam Tes IELTS, Percaya atau Tidak?

Terdapat sejumlah mitos yang beredar mengenai tes IELTS.

Biasanya, mitos tersebut datang dari mereka yang pernah mengikuti tes ini sebelumnya.

Asumsi-asumsi yang mereka dapatkan selama menjalani tes, diceritakan kembali kepada orang yang hendak mengambil tes ini.

Padahal, belum tentu asumsi tersebut benar.

Nah, mitos apa saja sih yang beredar mengenai ujian IELTS?

Haruskah mitos tersebut dipercaya, atau justru sebaiknya diabaikan saja?

1. Menggunakan sejumlah kata kunci bisa meningkatkan skor IELTS dari 5 menjadi 9

“Ketika menyebutkan kata plethora, skor IELTS bisa naik dari 5 hingga 9!” Pernah mendengar mitos tersebut?

Memang, salah satu penilaian pada tes bahasa Inggris IELTS adalah kekayaan kosakata yang digunakan, baik dalam sesi reading, writing, speaking, atau listening.

Namun, tak berarti dengan menyebutkan kata kunci tersebut saja otomatis skor-mu akan berubah drastis! 

Nyatanya, untuk mendapatkan skor IELTS tinggi, butuh persiapan yang matang dan usaha keras.

Ketahui apa yang masih menjadi kekuranganmu, dan perbanyak latihan sehingga kamu merasa percaya diri untuk melewati semua sesi tes.

Tak ada yang instan dalam belajar!

2. Semakin rumit tulisan pada essay-mu, semakin tinggi skor yang didapatkan

Mitos ini ada benarnya, namun tak sepenuhnya tepat. Kalimat-kalimat yang ditulis memang harus rumit, dengan kosa kata yang tak umum dan struktur tulisan yang baik.

Namun, rumit yang dimaksud di sini bukanlah rumit tanpa makna sehingga sulit dimengerti saat dibaca.

Kamu harus mengetahui perbedaan keduanya. Ada sejumlah trik khusus yang bisa kamu ikuti saat menjalani sesi menulis pada tes IELTS. 

3. Jangan gunakan kata “saya” saat menulis essay 

Dalam pertanyaan essay pada tes bahasa Inggris IELTS, seringkali terdapat pertanyaan seputar sudut pandang peserta terhadap sebuah fenomena.

Pertanyaan tersebut biasanya berbunyi “Do you agree or disagree about?” atau dalam bahasa Indonesia “Apakah kamu setuju atau tidak tentang”, yang kemudian dilanjutkan dengan pernyataan. 

Saat menjawab pertanyaan ini, akan sangat sulit untuk tidak menggunakan kata “saya”. Sebab, essay tersebut bertanya soal sudut pandangmu sebagai peserta.

Tentu jawaban yang tepat dimulai dari “Saya pikir”, “Saya rasa”, atau “Menurut opini saya”.

Dengan begitu, penguji akan mengetahui bahwa yang ditulis pada essay merupakan sudut pandangmu. 

Penggunaan kata “saya” bukan tidak dibolehkan. Namun kamu juga harus menggunakannya di tempat yang tepat.

Sederhananya, apabila terdapat pertanyaan seputar opinimu, maka gunakan kata “saya”. Sedangkan jika tidak, hindari terlalu banyak menggunakan kata “saya”. 

3. Jangan berikan opini pribadi

Apabila pertanyaan pada essay meminta opini pribadimu, maka sudah seharusnya kamu memberikan opini pribadi sesuai sudut pandangmu.

Apabila ternyata tidak demikian, maka tak perlu menambahkan opini pribadi di dalamnya. 

Bahkan opini pribadi yang dimaksud di sini tak selamanya harus mengenai apa yang kamu percaya.

Tulis saja apa yang menurutmu pantas untuk menjadi jawabannya. 

4. Pertanyaan di sesi reading bisa dijawab tanpa harus membaca seluruh teks wacana

Tidak, tentu kamu harus membaca teks wacana terlebih dahulu untuk bisa menjawab butir-butir pertanyaannya.

Apalagi dalam tes sertifikasi bahasa Inggris IELTS, membaca secara hati-hati merupakan hal yang harus dilakukan. Hindari membacanya hanya sekilas. 

5. Semakin banyak penggunaan kata sambung maka semakin baik

Pasti kamu sering mendengar mitos yang satu ini bukan? Jika kamu semakin banyak menggunakan kata sambung seperti “Therefore”, “Nevertheless “, “Definitely”, kaka skor akan semakin baik.

Nyatanya ternyata tak demikian. Penguji akan menilai baik hasil tes milikmu apabila kamu tidak berlebihan dan bahkan tidak kekurangan pula menggunakan kata sambung tersebut. 

6. Semakin cepat kamu berbicara, semakin tinggi skor yang akan didapatkan

Ini adalah mitos yang tidak benar. Dalam tes speaking, kamu harus berbicara dalam kecepatan sedang. Tidak terlalu cepat, namun tidak terlalu lambat pula. 

7. Jangan mengulang kosakata yang sudah digunakan

Hal ini pun tidak benar adanya. Apabila kamu menulis tentang olahraga, maka tentunya ada kosakata yang mau tak mau diulang.

Jika tidak, konteks dari tulisan tersebut malah tak jelas dan tak tersampaikan. Apalagi jika kosakata tersebut tak memiliki sinonim.

Namun tentu saja, jangan berlebihan dalam menggunakannya. Apalagi jika kamu menyebut kata yang sama hingga empat kali dalam satu kalimat.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: